NAGAN RAYA – Di bawah terik matahari yang menggantung seperti lentera siang, anggota Satgas TMMD terus menggerakkan sekop dan cangkul. Tanah basah yang sebelumnya menjadi penghalang perlahan ditata, seolah jalan itu sedang diajak bernapas kembali agar bisa dilalui masyarakat.
Tanpa menunggu datangnya alat berat, para personel memilih bekerja dengan cara sederhana. Jalur air dibuat secara manual untuk menghindari genangan yang dapat berubah menjadi lumpur tebal. Air yang sebelumnya mengendap kini diarahkan mengalir, seperti membuka urat nadi agar jalan tetap hidup.
Tebing di sisi jalan juga dirapikan. Tanah yang rawan longsor dipotong dan dibentuk ulang agar lebih aman. Setiap ayunan alat menjadi tanda bahwa pembangunan tidak selalu harus dimulai dengan mesin besar, tetapi bisa dari niat dan kerja bersama.
Selasa (3/3/2026), kegiatan tersebut berlangsung penuh kebersamaan. Prajurit dan warga saling membantu, menciptakan suasana kerja yang menyerupai keluarga besar yang sedang memperbaiki halaman rumahnya sendiri.
Kapten Inf Amrin selaku tertua di sasaran tersebut menegaskan bahwa waktu tidak boleh terbuang sia-sia.
“Kalau kita diam menunggu alat berat tentunya waktu terbuang sia-sia. Apalagi lumpur bisa terjadi jika air tidak segera dialirkan secara manual sehingga jalan tidak tergenang oleh air dan mempermudah akses warga untuk melintas,” ujarnya.
Langkah kecil itu menjadi solusi besar. Jalan yang tadinya terancam tergenang kini perlahan kembali kokoh. Bagi warga, kerja tersebut bukan sekadar memperbaiki tanah, tetapi membuka kembali harapan agar aktivitas sehari-hari tetap berjalan tanpa hambatan.(0116).


